Penyakit Hati Yang Diinduksi Oleh Obat (Drug-Induced Liver Disease)

Ø Perawatan Penyakit-Penyakit Hati Yang Diinduksi Oleh OBat

Perawatan yang paling penting untuk penyakit hati yang diinduksi obat adalah menghentikan obat yang menyebabkan penyakit hati. Pada kebanyakan pasien-pasien, tanda-tanda dan gejala-gejala dari penyakit hati akan menghilang dan tes-tes darah akan menjadi normal dan tidak akan ada kerusakan hati jangka panjang. Ada pengecualian-pengecualian, bagaimanapun. Contohnya, overdosis Tylenol dirawat dengan oral N-acetylcysteine untuk mencegah necrosis hati yang parah dan gagal hati. Transplantasi hati mungkin perlu untuk beberapa pasien-pasien dengan gagal hati akut. Beberapa obat-obat juga dapat menyebabkan kerusakan hati yang tidak dapat diubah lagi dan sirosis.

Ø Contoh-Contoh Penting Dari Penyakt Hati Yang Diinduksi Oleh Obat

1. Acetaminophen (Tylenol)

Overdosis acetaminophen dapat merusak hati. Kemungkinan kerusakan serta keparahan dari kerusakan tergantung pada dosis acetaminophen yang dikonsumsi; lebih tinggi dosisnya, lebih mungkin akan ada kerusakan dan lebih mungkin bahwa kerusakan akan menjadi berat/parah. Reaksi pada acetaminophen adalah tergantung dosis dan dapat diprediksi (diramalkan); ia bukan idiosyncratic – ganjil pada individu. Luka hati dari overdosis acetaminophen adalah hal yang serius karena kerusakan dapat berat/parah dan berakibat pada gagal hati dan kematian. Faktanya, overdosis acetaminophen adalah penyebab yang memipin dari gagal hati yang akut (penimbulan yang cepat) di Amerika dan Inggris.

Untuk dewasa rata-rata yang sehat, dosis maksimum acetaminophen yang direkomendasi selama periode 24-jam adalah 4 gram (4000 mg) atau delapan tablet-tablet extra-strength. (setiap tablet extra-strength mengandung 500 mg, sementara setiap tablet regular strength mengandung 325 mg.) Diantara anak-anak, dosis acetaminophen ditentukan pada dasar dari berat badan dan umur setiap anak, secara eksplisit (dengan tegas) dinyatakan pada setiap sisipan kemasan. Jika petunjuk-petunjuk untuk kaum dewasa dan anak-anak ini dituruti, acetaminophen adalah aman dan pada dasarnya tidak membawa risiko luka hati. Seseorang yang meminum lebih dari dua minuman-minuman beralkohol per hari, bagaimanapun, harus tidak memakai lebih dari 2 gram (2000 mg) acetaminophen diatas 24 jam, seperti didiskusikan dibawah, karena alkohol membuat hati rentan pada kerusakan dari dosis-dosis acetaminophen yang lebih rendah.

Dosis tunggal dari 7 sampai 10 gram (7000 – 10,000 mg) acetaminophen (14 sampai 20 tablet-tablet extra-strength), dua kali dosis yang direkomendasikan, dapat menyebabkan luka hati pada rata-rata kaum dewasa yang sehat. Diantara anak-anak, dosis tunggal dari 140 mg/kg (berat badan) acetaminophen dapat berakibat pada luka hati. Meskipun demikian, 3 sampai 4 gram ((3000 to 4000 mg) yang dipakai pada dosis tunggal atau 4 sampai 6 gram (4000 to 6000 mg) diatas 24 jam telah dilaporkan menyebabkan luka hati yang berat pada beberapa orang-orang, adakalanya bahkan berakibat pada kematian. Nampaknya bahwa individu-individu tertentu, contohnya, mereka yang meminum alkohol secara teratur, adalah lebih cenderung daripada yang lain-lain untuk mengembangkan kerusakan hati yang diinduksi acetaminophen. Faktor-faktor lain yang meningkatkan risiko seseorang untuk kerusakan dari acetaminophen termasuk keadaan berpuasa, malnutrisi, dan pemasukan yang serentak dari beberapa obat-obat lain seperti phenytoin (Dilantin), phenobarbital, carbamazepine [(Tegretol) (obat-obat anti serangan kejang)] atau isoniazid [(Nydrazid, Laniazid) (obat anti-TB)].

2. Statins

Statins adalah obat-obat yang paling luas digunakan untuk menurunkan kolesterol “jahat” (LDL) dalam rangka mencegah serangan-serangan jantung dan stroke-stroke. Kebanyakan dokter-dokter percaya bahwa statins adalah aman untuk penggunaan jangka panjang, dan pembahayaan (luka) hati yang penting adalah jarang. Meskipun demikian, statins dapat melukai (membahayakan) hati. Persoalan paling umum yang berhubungan dengan hati yang disebabkan oleh statins adalah peninggian-peninggian yang ringan pada tingkat-tingkat darah dari enzim-enzim hati (ALT dan AST) tanpa gejala-gejala. Studi-studi klinik telah menemukan peninggian-peninggian pada 0.5% sampai 3% dari pasien-pasien yang mengkonsumsi statins. Kelainan-kelainanini biasanya membaik atau menghilang sepenuhnya atas penghentian statin atau pengurangan dosis. Tidak ada kerusakan hati yang permanen (menetap).

Pasien-pasien dengan kegemukan mempunyai kesempatan yang meningkat mengembangkan diabetes, non-alcoholic fatty liver disease (NFALD), dan tingkat-tingkat kolesterol darah yang meninggi. Pasien-pasien dengan fatty liver seringkali tidak mempunyai gejala-gejala, dan tes-tes abnormal ditemukan ketika pengujian darah rutin dilakukan. Studi-studi baru-baru ini telah menemukan bahwa statins dapat digunakan dengan aman untuk merawat kolesterol darah yang tinggi pada pasien-pasien yang telah mempunyai fatty liver dan tes-tes darah hati yang abnormalnya ringan ketika statin dimulai. Pada pasien-pasien ini, dokter-dokter mungkin memilih untuk menggunakan statins pada dosis-dosis yang rendah dan mengamati (memonitor) tingkat-tingkat enzim hati secara teratur selama perawatan.

Meskipun demikian, idiosyncratic liver toxicity yang mampu menyebabkan kerusakan hati yang parah (termasuk gagal hati yang menjurus pada transplantasi hati) telah dilaporkan dengan statins. Frekwensi dari penyakit hati yang parah yang disebabkan oleh satins kemungkinan berada pada batasan dari 1-2 per juta pemakai-pemakai. Sebagai tindakan pencegahan, FDA labeling information menasehati bahwa tes-tes darah enzim hati harus dilaksanakan sebelum dan 12 minggu setelah inisiasi (permulaan) dari statin atau peningkatan pada dosis, dan secara periodik setelahnya (contohnya, setiap enam bulan).

3. Nicotinic acid (Niacin)

Niacin, seperti statins, telah digunakan untuk merawat tingkat-tingkat kolesterol darah yang meninggi serta tingkat-tingkat triglyceride yang meninggi. Juga seperti statins, niacin dapat merusak hati. Ia dapat menyebabkan peninggian-peninggian ringan yang temporer (sementara) pada tingkat-tingkat darah dari AST dan ALT, jaundice, dan, pada kejadian-kejadian yang jarang, gagal hati. Keracunan hati dengan niacin adalah tergantung dosis; dosis-dosis yang beracun biasanya melebihi 2 grams per hari. Pasien-pasien dengan penyakit-penyakit hati yang telah ada sebelumnya dan mereka yang meminum alkohol secara teratur berada pada risiko yang lebih tinggi mengembangkan keracunan niacin. Sustained-release preparations dari niacin juga adalah lebih mungkin menyebabkan keracunan hati daripada immediate-release preparations.

4. Amiodarone (Cordarone)

Amiodarone (Cordarone) adalah obat yang penting yang digunakan untuk merawat irama jantung yang tidak teratur (aritmia) seperti atrial fibrillation dan ventricular tachycardia. Amiodarone dapat menyebabkan kerusakan hati yang berkisar dari kelainan-kelainan enzim hati darah yang ringan dan dapat diubah lagi, sampai ke gagal hati akut dan sirosis yang tidak dapat diubah lagi. Kelainan-kelainan tes-tes darah hati yang ringan adalah umum dan secara khas menghilang beminggu-minggu sampai berbulan-bulan setelah penghentian obat. Kerusakan hati yang serius terjadi pada kurang dari 1% dari pasien-pasien.

Amiodarone berbeda dari kebanyakan obat-obat lain karena jumlah yang substansial dari amiodarone disimpan didalam hati. Obat yang disimpan mampu menyebabkan fatty liver, hepatitis, dan, lebih penting, ia dapat terus menerus merusak hati lama setelah obat dihentikan. Kerusakan hati yang serius dapat menjurus pada gagal hati akut, sirosis, dan keperluan untuk transplantasi hati.

5. Methotrexate (Rheumatrex, Trexall)

Methotrexate (Rheumatrex, Trexall) telah digunakan untuk perawatan jangka panjang dari pasien-pasien dengan psoriasis yang parah, rheumatoid arthritis, psoriatic arthritis, dan beberapa pasien-pasien dengan penyakit Crohn. Methotrexate telah ditemukan sebagai penyebab dari sirosis hati pada cara yang tergantung dosis. Pasien-pasien dengan penyakit-penyakit hati yang telah ada sebelumnya, pasien-pasien yang kegemukan, dan mereka yang meminum alkohol secara teratur terutama berada pada risiko mengembangkan sirosis yang diinduksi methotrexate. Pada tahun-tahun baru-baru ini, dokter-dokter telah mengurangi secara substansial kerusakan hati methotrexate dengan menggunakan dosis rendah dari methotrexate (5-15 mg) yang diberikan sekali setiap minggu dan dengan pengamatan dengan hati-hati tes-tes darah hati selama terapi. Beberapa dokter-dokter juga melakukan biopsi-biopsi hati pada pasien-pasien tanpa gejala-gejala hati setelah dua tahun (atau setelah dosis kumulatif dari 4 gram methotrexate) untuk mencari sirosis hati awal.

6. Antibiotik-Antibiotik

  • Isoniazid (Nydrazid, Laniazid). Isoniazid telah digunakan berdekade-dekade untuk merawat tuberculosis yang tersembunyi (pasien-pasien dengan tes-tes kulit yang positif untuk tuberculosis, tanpa tanda-tanda atau gejala-gejala dari tuberculosis yang aktif). Kebanyakan pasien-pasien dengan penyakit hati yang diinduksi isoniazid hanya mengembangkan peninggian-peinggian yang ringan dan dapat diubah lagi pada tingkat-tingkat darah dari AST dan ALT tanpa gejala-gejala, namun kira-kira 1-2% dari pasien-pasien mengembangkan hepatitis yang diinduksi isoniazid. Risiko mengembangkan hepatitis isoniazid terjadi lebih umum pada pasien-pasien yang lebih tua daripada pasien-pasien yang lebih muda. Risiko dari penyakit hati yang serius adalah 0.3% pada dewasa-dewasa muda yang sehat, dan meningkat ke lebih dari 2% pada pasien-pasien yang lebih tua dari umur 50 tahun. Suatu perkiraan 5-10% dari pasien-pasien yang mengembangkan hepatitis berlanjut mengembangkan gagal hati dan memerlukan transplantasi hati. Risiko keracunan hati isoniazid meningkat dengan pemasukan alkohol teratur yang kronis, dan dengan penggunaan serentak dari obat-obat lain seperti Tylenol dan rifampin (Rifadin, Rimactane).

Gejala-gejala awal dari hepatitis isoniazid adalah kelelahan, nafsu makan yang buruk, mual, dan muntah. Jaundice mungkin kemudian mengikutinya. Kebanyakan pasien-pasien dengan hepatitis isoniazid sembuh sepenuhnya dan dengan segera setelah penghentian obat. Penyakit hati yang berat dan gagal hati kebanyakan terjadi pada pasien-pasien yang terus menerus memakai isoniazid setelah timbulnya hepatitis. Oleh karenanya, perawatan yang paling penting untuk keracunan hati isoniazid adalah pengenalan awal dari hepatitis dan penghentian isoniazid sebelum luka hati yang serius telah terjadi.

  • Nitrofurantoin. Nitrofurantoin adalah obat anti bakteri yang digunakan untuk merawat infeksi-infeksi saluran kencing yang disebabkan oleh banyak bakteri-bakteri gram-negative dan beberapa bakteri-bakteri gram-positive. Nitrofurantoin disetujui oleh FDA pada tahun 1953. Ada tiga bentuk dari nitrofurantoin yang tersedia: bentuk microcrystalline (Furadantin), bentuk macrocrystalline (Macrodantin), dan bentuk sustained release, macrocrystalline yang digunakan dua kali dalam satu hati (Macrobid).

Nitrofurantoin dapat menyebabkan penyakit hati akut dan kronis. Paling umum, nitrofurantoin menyebabkan peninggian-peninggian yang ringan dan dapat diubah lagi pada tingkat-tingkat darah dari enzim-enzim hati tanpa gejala-gejala. Pada kejadian-kejadian yang jarang, nitrofurantoin dapat menyebabkan hepatitis.

Gejala-gejala dari hepatitis nitrofurantoin termasuk:

a.       kelelahan,

b.       demam,

c.        sakit-sakit otot dan persendian,

d.       nafsu makan yang buruk,

e.        mual,

f.        kehilangan berat badan,

g.        muntah,

h.       jaundice, dan

i.         adakalanya gatal.

Beberapa pasien-pasien dengan hepatitis juga mempunyai ruam kulit, kelenjar-kelenjar limfa yang membesar, dan pneumonia (dengan gejala-gejala dari batuk dan sesak napas) yang diinduksi nitrofurantoin. Tes-tes darah biasanya menunjukan enzim-enzim hati dan bilirubin yang meninggi. Kesembuhan dari hepatitis dan gejala-gejala lain dari kulit, persendian, dan paru adalah biasanya cepat sekali obat dihentikan. Penyakit hati yang serius seperti gagal hati akut dan hepatitis kronis dengan sirosis kebanyakan terjadi pada pasien-pasien yang meneruskan obat meskipun mengembangkan hepatitis.

  • Augmentin. Augmentin adalah kombinasi dari amoxicillin dan clavulanic acid. Amoxicillin adalah antibiotik yang berhubungan dengan penicillin dan ampicillin. Ia efektif melawan banyak bakteri-bakteri seperti H. influenzae, N. gonorrhea, E. coli, Pneumococci, Streptococci, dan strains tertentu dari Staphylococci . Tambahan dari clavulanic acid pada amoxicillin pada Augmentin memperkuat keefektifan dari amoxicillin melawan banyak bakteri-bakteri lain yang adalah biasanya resisten pada amoxicillin.

Augmentin telah dilaporkan menyebabkan cholestasis dengan atau tanpa hepatitis. Cholestasis yang diinduksi augmentin adalah jarang; kira-kira 150 kasus-kasus dari penyakit hati yang berhubungan dengan Augmentin telah dilaporkan. Gejala-gejala dari cholestasis (jaundice, mual, gatal) biasanya terjadi 1-6 minggu setelah memulai Augmentin, namun timbulnya penyakit hati dapat terjadi berminggu-minggu setelah penghentian Augmentin. Kebanyakan pasien-pasien sembuh sepenuhnya dalam minggu-minggu sampai bulan-bulan setelah penghentian obat, namun kasus-kasus yang jarang dari gagal hati, sirosis, dan transplantasi hati telah dilaporkan.

Antibiotik-antibiotik lain telah dilaporkan menyebabkan penyakit hati. Beberapa contoh-contoh termasuk minocycline (antibiotik yang berubungan dengan tetracycline), dan Cotrimoxazole (kombinasi dari sulfamethoxazole dan trimethoprim).

7. Nonsteroidal antiinflammatory drugs (NSAIDs)

Obat-obat antiperadangan nonsteroid atau nonsteroidal antiinflammatory drugs (NSAIDs) umumnya diresepkan untuk peradangan tulang dan yang berhubungan dengan sendi seperti arthritis, tendinitis dan bursitis. Contoh-contoh dari NSAIDs termasuk aspirin, indomethacin (Indocin), ibuprofen (Motrin), naproxen (Naprosyn), piroxicam (Feldene), dan nabumetone (Relafen). Kira-kira 33 juta orang-orang Amerika memakai NSAIDs secara teratur !

NSAIDs adalah aman ketika digunakan secara tepat dan seperti yang diresepkan oleh dokter-dokter; bagaimanapun, pasien-pasien dengan sirosis dan penyakit hati yang telah lanjut harus menghindari NSAIDs karena mereka dapat memperburuk fungsi hati (serta menyebabkan gagal hati).

Penyakit hati yang serius (seperti hepatitis) dari NSAIDs, terjadi dengan jarang (pada kira-kira 1-10 pasien-pasien per 100,000 yang menggunakan oba-obat). Diclofenac (Voltaren) adalah contoh dari NSAID yang telah dilaporkan menyebakan sedikit lebih sering hepatitis, pada kira-kira 1-5 per 100,000 pemakai-pemakai obat. Hepatitis biasanya menghilang sepenuhnya setelah penghentian obat. Gagal hati akut dan penyakit hati kronis, sepert sirosis, telah jarang dilaporkan.

8. Tacrine (Cognex)

Tacrine (Cognex) adalah obat oral yang digunakan untuk merawat penyakit Alzheimer. FDA menyetujui tacrine pada tahun 1993. Tacrine telah dilaporkan menyebabkan peninggian-peninggian yang abnormal pada enzim-enzim hati darah umumnya. Pasien-pasien mungkin melaporkan mual, namun hepatitis dan penyakit hati yang serius adalah jarang. Tes-tes abnormal biasanya menjadi normal setelah tacrine dihentikan.

9. Disulfiram (Antabuse)

Disulfiram (Antabuse) adalah obat yang adakalanya diresepkan untuk merawat alkoholisme. Ia menghilangkan semangat meminum dengan menyebabkan mual, muntah, dan reaksi-reaksi fisik lain yang tidak menyenangkan ketika alkohol diminum. Disulfiram telah dilaporkan menyebabkan hepatitis akut. Pada kasus-kasus yang jarang, hepatitis yang diinduksi disulfiram dapat menjurus pada gagal hati akut dan transplantasi hati.

10. Vitamin-Vitamin Dan Herba-Herba

Pemasukan vitamin A yang berlebihan, yang dimasukan bertahun-tahun, dapat merusak hati. Diperkirakan bahwa lebih dari 30% dari populasi Amerika memakai suplemen-suplemen dari vitamin A, dan beberapa individu-individu memakai vitamin A pada dosis yang tinggi yang mungkin beracun untuk hati (lebih besar dari 10,000 units/ hari). Penyakit hati yang diinduksi vitamin A termasuk peningkatan yang ringan yang dapat diubah kembali dari enzim-enzim hati darah, hepatitis, hepatitis kronis dengan sirosis, dan gagal hati.

Gejala-gejala dari keracunan vitamin A mungkin termasuk nyeri-nyeri tulang dan otot, pewarnaan orange kulit, kelelahan, dan sakit kepala. Pada kasus-kasus yang berlanjut, pasien-pasien akan mengembangkan hati-hati dan limpa-limpa yang membesar, jaundice, dan ascites (penumpukan cairan yang abnormal di perut). Pasien-pasien yang adalah peminum alkohol yag berat dan mempunyai penyakit hati lain yang telah ada lebih dahulu berada pada risiko yang meningkat dari kerusakan hati dari vitamin A. Perbaikan secara berangsur-angsur pada penyakit hati biasanya terjadi setelah menghentikan vitamin A, namun kerusakan hati yang progresif dan gagal hati mungkin terjadi pada keracunan vitamin A yang berat dengan sirosis.

Keracunan hati juga telah dilaporkan dengan herbal teh. Contoh-contoh termasuk Ma Huang, Kava Kava, pyrrolizidine alkaloids in Comfrey, germander, dan chaparral leaf. Amanita phylloides adalah kimia racun hati yang ditemukan pada jamur-jamur yang beracun. Konsumsi tunggal dari jamur yang beracun dapat menjurus pada gagal hati akut dan kematian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: