SURVEILANS EPIDEMIOLOGI PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

MENJELASKAN BAGAIMANA SISTEM SURVEILANS EPIDEMIOLOGI PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DILAKUKAN

 

Seiring meningkatnya arus globalisasi, maka timbul pula penyakit baru (new emerging disease) dan timbulnya kembali penyakit lama (re-emerging disease). Dampak dari arus globalisasi tersebut juga terjadi di Indonesia. Padahal di Indonesia beberapa penyakit menular masih merupakan beban masalah kesehatan yang menonjol dan mempunyai kontribusi yang bermakna terhadap mortalitas dan morbiditas penduduk. Salah satu penyakit menular yang sering terjadi di Indonesia yaitu Demam Berdarah Dengue (DBD).

Upaya untuk memberantas penyakit menular tersebut sudah lama dilaksanakan dengan menghabiskan dana yang begitu besar. Namun sampai saat ini upaya tersebut hasilnya belum menggembirakan. Di beberapa daerah masih sering terjadi kejadian luar biasa (KLB) yang sebenarnya masih dapat dieliminir apabila system surveilans dapat berjalan dengan baik.

Selama ini pengertian konsep surveilans epidemiologi sering di pahami hanya sebagai kegiatan pengumpulan dana dan penanggulangan KLB, pengertian seperti itu menyembunyikan makna analisis dan penyebaran informasi epidemiologi sebagai bagian yang sangat penting dari proses kegiatan surveilans epidemiologi.

Menurut WHO, surveilans adalah proses pengumpulan, pengolahan, analisis, dan interpretasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan. Oleh karena itu perlu di kembangkan suatu definisi surveilans epidemiologi yang lebih mengedepankan analisis atau kajian epidemiologi serta pemanfaatan informasi epidemiologi, tanpa melupakan pentingnya kegiatan pengumpulan dan pengolahan data.

Dalam sistem ini yang dimaksud dengan surveilans epidemiologi adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut, agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan.

Sistem surveilans epidemiologi merupakan tatanan prosedur penyelenggaraan surveilans epidemiologi yang terintegrasi antara unit-unit penyelenggara surveilans dengan laboratorium, sumber-sumber data, pusat penelitian, pusat kajian dan penyelenggara program kesehatan, meliputi tata hubungan surveilans epidemiologi antar wilayah kabupaten/kota, Propinsi dan Pusat.

System surveilans penyakit DBD adalah pengamatan penyakit DBD di Puskesmas meliputi kegiatan pencatatan, pengolahan dan penyajian data penderita DBD untuk pemantauan mingguan, laporan mingguan wabah, laporan bulanan program P2DBD, penentuan desa/kelurahan rawan, mengetahui distribusi kasus DBD / kasus tersangka DBD per RW/ dusun, menentukan musim penularan dan mengetahui kecendrungan penyakit.

Tujuan dari surveilans antara lain adalah deteksi out break, evaluasi suatu upaya intervensi dan monitor kerja program penanggulangan. Adapun kegiatan system surveilans terdiri dari pengumpulan data, pengolahan, analisa, rekomendasi sampai pada diseminasi informasi. Hasil dari kegiatan surveilans dapat berupa informasi yang dapat digunakan untuk menilai status kesehatan masyarakat, identifikasi prioritas kesehatan masyarakat evaluasi program dan riset stimulasi. Untuk menghasilkan informasi yang akurat diperlukan data yang akurat pula. Data dapat dikumpulkan dari berbagai sumber dan berbagai cara.

Pengolahan data dilakukan dengan pendekatan prinsip-prinsip surveilans epidemiologi yaitu analisa kependudukan berdasarkan tempat, waktu, orang dan golongan risiko tinggi serta menggunakan indakator-indikator rate, proporsi, ratio. Untuk analisa dan interpretasi data disamping melihat factor-faktor tersebut juga menggunakan perbandingan data tahun sebelumnya atau data pencapaian tingkat provinsi maupun nasional.

Penyakit demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) di Indonesia. Penyakit ini mempunyai perjalanan penyakit yang cepat, mudah menyebar dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat. Prediksi kejadian demam berdarah dengue di suatu wilayah, selama ini dilakukan berdasarkan stratifikasi endemisitas, pola maksimal−minimal dan siklus 3−5 tahun sesuai dari data Surveilans epidemiologi. Cara prediksi ini terdapat kelemahan karena berubahnya data menjelang musim penularan DBD dan belum adanya data faktor risiko terkini, sehingga prediksi sering tidak tepat. Data faktor risiko DBD dapat digunakan untuk menentukan jenis intervensi, sehingga kejadian DBD dapat dicegah sesuai konsep kewaspadaan dini.

Data surveilans epidemiologi yang dihasilkan, sebagian masih diolah secara manual dan semi otomatis dengan penyajian masih terbatas dalam bentuk tabel dan grafik, sedangkan penyajian dalam bentuk peta belum dilakukan. Berdasarkan kenyataan tersebut, dikembangkan sistem surveilans epidemiologi DBD untuk kewaspadaan dini berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG).

Pada sistem ini, dilakukan pendataan faktor risiko DBD melalui Rapid Survey pada saat menjelang musim penularan untuk mendapatkan data terbaru untuk menentukan jenis intervensi. Dengan SIG, dapat dihasilkan peta faktor risiko, peta kasus dan peta kegiatan lain, dan dengan teknik overlayer dapat dilakukan perencanaan maupun evaluasi program pemberantasan DBD.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Kegiatan surveilans DBD di Dinas Kesehatan di suatu wilayah menjadi tanggung jawab dan dilaksanakan oleh petugas atau pengelola program DBD. Jumlah petugas sudah dianggap cukup, tetapi kualitasnya masih kurang. Sering terjadi keterlambatan data yang berasal dari KDRS, sehingga terjadi keterlambatan dalam pengolahan dan analisis data. Informasi epidemiologi yang dihasilkan dari kegiatan surveilans belum disebarluaskan secara rutin, baik kepada Kepala Dinas, maupun lintas program. Disamping itu, sumber data baik Rumah Sakit maupun Puskesmas, juga tidak mendapat feedback hasil pelaksanaan surveilans. Penilaian terhadap atribut sistem surveilans menujukkan bahwa sistem yang berjalan sudah sederhana, mempunyai NPP yang tinggi dan representatif. Disamping itu, penilaian terhadap atribut sistem yang berjalan menunjukkan bahwa sistem yang berjalan masih kurang akseptabel, kurang sensitif dan kurang tepat waktu dan sulit dievaluasi fleksibilitasnya.

Berdasarkan hasil yang diperoleh, disarankan adanya pelatihan dalam bentuk on the job training, untuk menyelesaikan kurangnya kualitas tenaga pelaksana agar lebih sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi. Perlu dilakukan diseminasi dalam bentuk laporan kepada atasan, feedback kepada sumber data maupun kepada siapa saja yang membutuhkan, termasuk lintas sektor, lintas program dan kepada masyarakat luas. Dengan diseminasi Informasi, masing-masing pihak akan dapat mengetahui dan sadar akan kondisi DBD di wilayahnya, sehingga dapat membantu mengurangi kemungkinan penyebaran DBD.

FKM UNDIP

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: