SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) – Air Borne Disease

AIRBORNE DISEASE — SARS

Penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme yang ada di udara sering diklasifikasikan sebagai penyakit yang menular lewat udara (airborne disease). Salah satu penyakit yang menular lewat udara (airborne disease) adalah sars atau Severe Acute Respiratory Syndrome.

A. Sejarah SARS

Kasus SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) atau Syndrome Pernapasan Akut Berat pertama kali ditemukan di propinsi Guangdong ( China ) pada bulan November 2003. Adanya kejadian luar biasa di Guangdong ini baru diberitakan oleh WHO empat bulan kemudian yaitu pada pertengahan bulan Februari 2003. Pada waktu itu disebut sebagai Atypical Pneumonia atau Radang Patu Atipik. Informasi WHO ini menjadi dasar bagi DepKes untuk secara dini pada bulan Februari 2003 menginstruksikan kepada seluruh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP ) di Indonesia yang mengawasi 155 bandara, pelabuhan laut dan pos lintas batas darat untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengambil langkah-langkah penangkalan yang perlu. Pada tanggal 11 Maret 2003, WHO mengumumkan adanya penyakit baru yang menular dengan cepat di Hongkong, Singapura dan Vietnam yang disebut SARS. Pada tanggal 15 Maret 2003 Direktur Jenderal WHO menyatakan bahwa SARS adalah ancaman global atau Global Threat. Dengan adanya pernyataan itu, Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tangal 16 Maret 2003 segera berkoordinasi dengan WHO dan menginformasikan kepada seluruh Dinas Kesehatan Provinsi, Rumah sakit Provinsi, KKP di seluruh Indonesia dan lintas sektor terkait untuk mengambil langkah yang perlu bagi pencegahan penularan dan pencegahan penyebaran SARS pada tanggal 17 Maret 2003. Pada waktu itu belum diketahui apakah penyakit ini sama dengan Atypicak Pneumonia yang berjangkit di Guangdong. pada bulan April 2003 barulah WHO memastikan bahwa Atypical Pneumonia di Guangdong adalah SARS. Pertimbangan WHO menyatakan SARS sebagai ancaman global adalah SARS merupakan penyakit baru yang belum dikenal penyebabnya, SARS menyebar secara cepat melalui alat angkut antar negara dan SARS terutama menyerang tenaga kesehatan di rumah sakit. Wabah SARS telah mendorong berbagai pakar kesehatan di dunia untuk bekerja sama menemukan penyebab SARS dan memahami cara penularan SARS. Atas kerjasama para pakar dari 13 laboratorium di dunia maka tanggal 16 April 2003 dipastikan bahwa penyebab SARS adalah Virus Corona atau Coronavirus. Departemen Kesehatan secara dini dan sejak awal pandemi SARS pada bulan Maret tahun 2003 melaksanakan Penanggulangan SARS dengan tujuan mencegah terjadinya kesakitan dan kematian akibat SARS dan mencegah terjadinya penularan SARS di masyarakat (community transmission) di Indonesia.

B. Definisi SARS

SARS (Severe Acute Respiratoty Syndrome) adalah suatu jenis penyakit pernapasan akibat virus yang pertama kali terjadi di beberapa negara Asia. Penyakit ini kemudian menyebar ke Amerika dan Eropa. Virusnya bernama SARS-CoV (SARS Coronavirus) yang menyerang saluran pernapasan bagian atas. Para ahli percaya, SARS pertama kali berkembang di dalam tubuh binatang. Hal ini berdasarkan temuan mereka akan virus yang sama di dalam tubuh musang. Musang ini di Cina dikonsumsi sebagai makanan saat keadaan terdesak.

C. Penyebab SARS

Para ilmuwan kian meyakini bahwa virus dari keluarga corona adalah penyebab SARS. Ilmuwan dari Hong Kong mengaku bahwa mereka telah berhasil menunjukkan dengan tepat virus corona itu setelah mengidentifikasi bagian kecil dari sampel DNA pasien yang terinfeksi SARS. Hasil riset ilmuwan Hong Kong ini didukung hasil riset Institut Pasteur di Perancis dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Atlanta, AS. Dr Mark Salter dari WHO menyatakan, virus itu biasanya menyerang binatang, umumnya babi ( Virus ini pertama kali ditemukan oleh Twnell dari USA pada tahun 1965 dan berhasil melakukan kultur yang ditemukan pada manusia dengan gejala Commond Cold dan penyakit Infeksi saluran pernapasan bagian atas, biasanya virus ini muncul pada musim dingin dan awal musim semi, jika virus ini berasal dari Babi, maka pada manusia akan menyebabkan kelainan Gastro Enteritis, jika berasal dari ayam , pada manusia akan menyebabkan bronchitis dan jika berasal dari tikus, pada manusia akan menyebabkan Hepatitis, virus ini juga dapat ditemukan pada penderita HIV/AIDS yang menderita Diare), yang dengan berbagai cara akhirnya menyebar ke manusia. Saat ini ilmuwan telah melampaui tahapan penemuan virus itu sehingga mereka dapat konsentrasi untuk menemukan cara mendiagnosa, mengobati dan mencegah wabah itu sehingga dokter bisa mengkonfirmasikan pada pasien yang yang terinfeksi virus mematikan itu. Hingga kini belum ada obat antivirus yang berhasil mengobati SARS atau vaksin untuk mencegahnya.

D. Gejala SARS

Gejala penyakit SARS yang terjadi biasanya adalah demam dengan suhu badan tinggi lebih dari 38 derajat Celcius, batuk kering, napas pendek, susah bernapas (sesak), nyeri otot dan persendian serta sakit di dada terutama saat bernapas, sakit kepala, sakit otot, sakit tenggorokan, diare, malaise (gelisah), dan hilang selera makan. Gejala-gejala tersebut bisa terjadi selama 3 hingga 7 hari atau paling lama 10 hari.

E. Cara Penularan SARS

Cara penularan penyakit melalui kontak langsung dengan penderita SARS baik karena berbicara, terkena percikan batuk atau bersin (“Droplet Infection”). Penularan melalui udara, misalnya penyebaran udara, ventilasi, dalam satu kendaraan atau dalam satu gedung diperkirakan tidak terjadi, asal tidak kontak langsung berhadapan dengan penderita SARS. Masa penularan dari orang ke orang belum teridentifikasi dengan jelas. Untuk sementara, masa menular adalah mulai saat terdapat demam atau tanda-tanda gangguan pernafasan hingga penyakitnya dinyatakan sembuh. Periode aman dari kemungkinan terjadinya penularan pada unit pelayanan atau pada kelompok masyarakat yang terjangkit KLB SARS adalah setelah lebih dari 14 hari sejak kasus terakhir dinyatakan sembuh.

F. Epidemiologi SARS

Penyebaran SARS diketahui melalui kontak langsung dengan penderita. Ludah, dahak dan cairan yang dikeluarkan saat bersin, batuk dan aliran nafas merupakan media penularan. Para peneliti menemukan bahwa penyebabnya adalah sejenis virus yang termasuk dalam kelompok virus corona penyebab influensa biasa. WHO menyatakan bahwa kontak erat dengan penderita SARS/CVP diperlukan agar virus dapat menular ke orang lain. Kontak dengan percikan cairan tubuh pasien yang keluar pada waktu batuk dan bersin adalah penting. Sebagian besar pasien saat ini adalah petugas kesehatan dan keluarga dekat pasien yang merawat penderita SARS/CVP. Sejak diketahui pertama kali di Guangdong akhir November 2002, dalam dua bulan SARS menyebar ke berbagai kota di China bahkan sampai ke negara-negara yang jauh dari daratan  China, seperti Canada dan Singapura Dilaporkan seorang pedagang China dari Hongkong masuk. Rumah Sakit Vietnam-France Hospital yang kemudian ternyata menderita SARS dan menjadi pemicu berjangkitnya penyakit ini di Vietnam. Dia terinfeksi oleh seorang dokter dari Guangdong yang menginap bersama satu lantai di Metropole Hotel Hanoi. Dia dan petugas RS tersebut kemudian diteliti oleh DR.Carlo Urbani yang juga terinfeksi dan meninggal karena SARS; selanjutnya Vietnam-France Hospital ditutup sementara untuk investigasi. Mulanya SARS dilaporkan diderita oleh seorang lelaki yang suka makan dan berburu binatang liar di Guangdong . Penelitian selanjutnya melakukan uji darah terhadap 25 binatang sampel yang ternyata tidak menemukan virus corona. Selanjutnya Kwak Yung Yuen dkk. dari University of Hongkong dapat mengisolasi virus corona dari kotoran hewan dan cairan hidung binatang Paguma larvata sejenis musang Himalaya yang banyak dijual dan dimakan di restoran-restoran di Guangdong. Diperkirakan binatang ini tertular virus influenza dari manusia, mengalami mutasi, kemudian menjadi virulen dan menginfeksi manusia yang memakannya. Penyebarannya secara global terjadi melalui seorang Profesor medik China dari Guangdong yang terinfeksi, menempati Kamar no.911 di Hongkong Hotel, kemudian menularkannya secara tidak sengaja pada 7 orang tamu yang menginap di lantai yang sama. Tingkat penyebarannya sangat cepat melalui orang perorang, diperkirakan virus ini mempunyai kemampuan luar biasa yang dapat menulari sekaligus 300 orang lainnya.

G. Pencegahan SARS

1. Prinsip control disease untuk penyakit SARS:

a.  Penderita

Pengobatan para penderita SARS biasanya dilakukan dengan perawatan intensif di rumah sakit, terutama jika terjadi sesak napas. Penderita akan ditempatkan di ruang isolasi agar tidak menyebarkan virus ke mana-mana. Obat yang dipakai biasanya adalah obat yang mengandung kortikosoid dan antivirus ribavirin. Walaupun demikian, obat ini belum 100% efektif mengobati SARS. Dan sampai saat ini belum ada satu pun obat yang efektif dalam mengobati SARS.

b.  Contact Person

Untuk mencegah penularan penyakit SARS dapat dilakukan dengan cara:

  1. Hindarilah bepergian atau naik kendaraan umum namun jika terpaksa maka jangan menutup jendela atau pintu
  2. Hindarilah tempat-tempat umum dan ramai khususnya di daerah dekat rumah sakit, internet cafe, tempat-tempat nongkrong, bioskop, dan perpustakaan, jika kamu melakukannya maka pakailah masker dan cucilah tangan anda secara bersih dan teratur.
  3. Hindarilah mengunjungi pasien dan periksa ke dokter di rumah sakit khususnya yang ada pasien SARSnya.
  4. Ajarilah anak-anak untuk cuci tangan dengan sabun dan jangan menyentuh mulut, hidung, dan mata dengan tangan telanjang
  5. Jagalah keseimbangan gizi diet Anda dan hendalah berolahraga secara teratur untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh kita
  6. Anak-anak yang sistem kekebalan tubuhnya melemah harus memakai masker sepanjang waktu untuk menhindari menyebarnya cairan tubuh seperti ludah/air liur
  7. Periksalah suhu badan Anda secara teratur dan tetaplah hati-hati dengan kondisi kesehatan Anda

c.  Lingkungan

SARS juga bisa dihindari dengan menjaga kesehatan lingkungan seperti:

  1. Menjaga sirkulasi udara di kamar Anda
  2. Menjaga lingkungan rumah Anda tetap sehat.  Di sini ada beberapa solusi untuk mematikan kuman yang dapat digunakan:a.       Caranya:  Gunakan pemutih ( bleach ) yang tersedia di pasar (dengan kandungan kimia 8-12%).  Ini adalah cara paling murah dan efektif mematikan kuman. Persiapan: Pakailah sarung tangan anti air, Campurlah pemutih dengan air dengan ukuran 1:100 (pemutih/bleach:air/water).

Frekuensi:  Bersihkanlah tempat-tempat yang sering dilewati orang secara teratur dan selama masa penyebaran virus SARS, lebih baik bersihkanlah/basmilah kuman rumah Anda setiap hari.

Sejauh kita menjaga diri, memakai masker dan mencuci tangan secara teratur, dilanjutkan dengan instruksi karantina maka kita semua dapat menghindari infeksi.  Tidak perlu terlalu panik atau mendiskriminasi tersangka atau pasien SARS.  Menjaga diri dengan baik adalah untuk “MENYELAMATKAN DIRI SENDIRI DAN ORANG LAIN”! Tidak semua orang adalah pembawa virus SARS, dengan lebih mengaja diri berarti kamu sudah memberikan dukungan yang luar biasa kepada para pasien SARS untuk sembuh lebih cepat dan menambah sistem kekebalan tubuh.  Terlalu panik dan bimbang dapat mengakibatkan menurunnya sistem kekebalan tubuh kita.

sumber:

http://balisos.com/SARS/depkes.id.html

http://www.kamusilmiah.com/kesehatan/coronavirus-dan-penyakit-sars/

http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/148_09ApakahSARSBerjangkit.pdf/148_09ApakahSARSBerjangkit.html

http://tavoi.myweb.hinet.net/activity/SARS/in.htm

http://www.cdc.gov/ncidod/SARS/

http://www.who.int/csr/sars/en/

Demam Typhoid (Food and Water borne Disease)

DEMAM TYPHOID

A. Pengertian Demam Typhoid

Demam typhoid adalah penyakit menular yang bersifat akut, yang ditandai dengan bakterimia, perubahan pada sistem retikuloendotelial yang bersifat difus, pembentukan mikroabses dan ulserasi Nodus peyer di distal ileum.

Penyakit Demam Typhoid (bahasa Inggris: Typhoid fever) yang biasa juga disebut typhus atau types dalam bahasa Indonesianya, merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica, khususnya turunannya yaitu Salmonella Typhi terutama menyerang bagian saluran pencernaan.

Demam typhoid adalah penyakit infeksi akut yang selalu ada di masyarakat (endemik) di Indonesia, mulai dari usia balita, anak-anak dan dewasa. Demam typhoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaan dan gangguan kesadaran. Pada anak biasanya lebih ringan dari pada orang dewasa, masa inkubasi 10 – 20 hari, yang tersingkat 4 hari jika infeksi terjadi melalui makanan

B. Penyebab Demam Typhoid

Demam tifoid disebabkan oleh Salmonella thypi dan Salmonella parathypi. Salmonela merupakan bakteri gram negatif berbentuk batang yang termasuk dalam famili Enterobacteriaceae. Salmonella memiliki karakteristik memfermentasikan glukosa dan mannose tanpa memproduksi gas, tetapi tidak memfermentasikan laktosa atau sukrose. Seperti Enterobacteriaceae yang lain Salmonella memiliki tiga macam antigen yaitu antigen O (tahan panas, terdiri dari lipopolisakarida), antigen Vi (tidak tahan panas, polisakarida), dan antigen H (dapat didenaturasi dengan panas dan alkohol). Antigen ini dapat digunakan untuk pemeriksaan penegak diagnosis.

C. Patofisiologi

Makanan dan minuman yang terkontaminasi bakteri salmonella typhosa masuk melalui mulut terus sampai ke saluran pencernaan. Basil diserap di usus halus, melalui pembuluh limfe halus masuk ke dalam peredaran darah sampai di organ-organ terutama hati dan limfe.
Basil yang tidak dihancurkan berkembang biak dalam hati dan limfe, sehingga organ tersebut akan membesar disertai nyeri pada perabaan. Basil masuk kedalam darah dan menyebar ke seluruh tubuh terutama kelenjar limfoid usus halus, sehingga tukak berbentuk lonjong pada mukosanya, mengakibatkan perdarahan dan perforasi usus, Gejala demam disebabkan oleh endotoxin.

D. Gejala Demam Typhoid

Penyakit ini bisa menyerang saat bakteri tersebut masuk melalui makanan atau minuman, sehingga terjadi infeksi saluran pencernaan yaitu usus halus. Kemudian mengikuti peredaran darah, bakteri ini mencapai hati dan limpa sehingga berkembang biak disana yang menyebabkan rasa nyeri saat diraba.

Gejala klinik demam typhoid pada anak biasanya memberikan gambaran klinis yang ringan bahkan dapat tanpa gejala (asimtomatik). Secara garis besar, tanda dan gejala yang ditimbulkan antara lain ;

1.      Demam lebih dari seminggu. Siang hari biasanya terlihat segar namun menjelang malamnya demam tinggi.

2.      Lidah kotor. Bagian tengah berwarna putih dan pinggirnya merah. Biasanya anak akan merasa lidahnya pahit dan cenderung ingin makan yang asam-asam atau pedas.

3.      Mual Berat sampai muntah. Bakteri Salmonella typhi berkembang biak di hatidan limpa, Akibatnya terjadi pembengkakan dan akhirnya menekan lambung sehingga terjadi rasa mual. Dikarenakan mual yang berlebihan, akhirnya makanan tak bisa masuk secara sempurna dan biasanya keluar lagi lewat mulut.

4.      Diare atau Mencret. Sifat bakteri yang menyerang saluran cerna menyebabkan gangguan penyerapan cairan yang akhirnya terjadi diare, namun dalam beberapa kasus justru terjadi konstipasi (sulit buang air besar).

5.      Lemas, pusing, dan sakit perut. Demam yang tinggi menimbulkan rasa lemas, pusing. Terjadinya pembengkakan hati dan limpa menimbulkan rasa sakit di perut.

6.      Pingsan, Tak sadarkan diri. Penderita umumnya lebih merasakan nyaman dengan berbaring tanpa banyak pergerakan, namun dengan kondisi yang parah seringkali terjadi gangguan kesadaran.

E. GAMBARAN EPIDEMIOLOGI

Penyakit Typhus atau Demam typhoid (bahasa Inggris: Typhoid fever) yang biasa juga disebut typhus atau types dalam bahasa Indonesianya, merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica, khususnya turunannya yaitu Salmonella Typhi terutama menyerang bagian saluran pencernaan.

Demam typhoid adalah penyakit infeksi akut yang selalu ada di masyarakat (endemik) di Indonesia, mulai dari usia balita, anak-anak dan dewasa. Di Indonesia penderita demam typhoid cukup banyak diperkirakan 800 /100.000 penduduk per tahun dan tersebar di mana-mana. Ditemukan hampir sepanjang tahun, tetapi terutama pada musim panas. Demam tifoid dapat ditemukan pada semua umur, tetapi yang paling sering pada anak besar,umur 5- 9 tahun.

Situasi penyakit Typhus (demam typhoid) di Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2005 sebanyak 16.478 kasus, dengan kematian sebanyak 6 orang (CFR=1%). Berdasarkan laporan yang di terima oleh Subdin P2&PL Dinkes Prov. Sulsel dari beberapa kabupaten yang menunjukkan kasus tertinggi yakni Kota Parepare, Kota Makassar, Kota Palopo, Kab. Enrekang dan Kab. Gowa. Sedangkan untuk tahun 2006, tercatata jumlah penderita sebanyak 16.909 dengan kematian sebanyak 11 orang (CFR=0,07%) dan sebaran kasus tertinggi di Kab. Gowa, Kab. Enrekang, Kota Makassar dan Kota Parepare.

Pada tahun 2007 tercatat jumlah penderita sebanyak 16.552 dengan kematian sebanyak 5 orang (CFR=0,03 %) dengan sebaran kasus tertinggi di Kab.Gowa, Kab.Enrekang dan Kota Makassar. Penyakit typhus berdasarkan Riskesdas tahun 2007 secara nasional di Sulawesi Selatan, penyakit typhus tersebar di semua umur dan cenderung lebih tinggi pada umur dewasa. Prevalensi klinis banyak ditemukan pada kelompok umur sekolah yaitu 1,9%, terendah pada bayi yaitu 0,8%.

Dari data program tahun 2008 penyakit typhus tercatat jumlah penderita sebanyak 20.088 dengan kematian sebanyak 3 orang, masing-masing Kab. Gowa (1 orang) dan Barru (2 orang) atau CFR= 0,01 %. Insiden Rate (IR=0.28%) yaitu tertinggi di Kab.Gowa yaitu 2.391 kasus dan terendah di Kab. Luwu yaitu 94 kasus, tertinggi pada umur 15-44 tahun) sebanyak 15.212 kasus.

F. Penularan Demam Typoid

Penyakit demam typhoid ini bisa menyerang saat kuman tersebut masuk melalui makanan atau minuman, sehingga terjadi infeksi saluran pencernaan yaitu usus halus. Dan melalui peredaran darah, kuman sampai di organ tubuh terutama hati dan limpa. Ia kemudian berkembang biak dalam hati dan limpa yang menyebabkan rasa nyeri saat diraba.

G. Pencegahan

1.  Prinsip control disease untuk penyakit Demam typhoid:

a.  Penderita

Penderita penyakit Demam typhoid harus makan makanan yang disiapkan sendiri di rumah (karena terjamin kebersihannya), minum air yang tidak terkontaminasi. mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air, tidak buang air besar sembarangan (di negara kita masih banyak keluarga yang tidak memiliki jamban sendiri), memasak makanan terlebih dahulu, bijak dalam menggunakan antibiotik. Penderita demam typhoid sebaiknya harus bed rest (istirahat total diatas tempat tidur) dan tidak boleh melakukan aktivitas seperti biasanya.

Saat ini sudah tersedia vaksin untuk typhoid. Ada 2 macam vaksin, yaitu vaksin hidup yang diberikan secara oral (Ty21A) dan vaksin polisakarida Vi yang diberikan secara intramuskular/disuntikkan ke dalam otot. Menurut FDA Amerika, efektivitas kedua vaksin ini bervariasi antara 50-80 %.

Vaksin hidup Ty21A diberikan kepada orang dewasa dan anak yang berusia 6 tahun atau lebih. Vaksin ini berupa kapsul, diberikan dalam 4 dosis, selang 2 hari. Kapsul diminum dengan air dingin (suhunya tidak lebih dari 37 oC), 1 jam sebelum makan. Kapsul harus disimpan dalam kulkas (bukan di freezer). Vaksin ini tidak boleh diberikan kepada orang dengan penurunan sistem kekebalan tubuh (HIV, keganasan). Vaksin juga jangan diberikan pada orang yang sedang mengalami gangguan pencernaan. Penggunaan antibiotik harus dihindari 24 jam sebelum dosis pertama dan 7 hari setelah dosis keempat. Sebaiknya tidak diberikan kepada wanita hamil. Vaksin ini harus diulang setiap 5 tahun. Efek samping yang mungkin timbul antara lain, mual, muntah, rasa tidak nyaman di perut, demam, sakit kepala dan urtikaria.

Vaksin polisakarida Vi dapat diberikan pada orang dewasa dan anak yang berusia 2 tahun atau lebih. Cukup disuntikkan ke dalam otot 1 kali dengan dosis 0,5 mL. Vaksin ini dapat diberikan kepada orang yang mengalami penurunan sistem imun. Satu-satunya kontra indikasi vaksin ini adalah riwayat timbulnya reaksi lokal yang berat di tempat penyuntikkan atau reaksi sistemik terhadap dosis vaksin sebelumnya. Vaksin ini harus diulang setiap 2 tahun. Efek samping yang mungkin timbul lebih ringan dari pada jika diberikan vaksin hidup. Dapat timbul reaksi lokal di daerah penyuntikkan. Tidak ada data yang cukup untuk direkomendasikan kepada wanita hamil.

b.  Kontak Person

Cara penyebarannya melalui muntahan, urin, dan kotoran dari penderita yang kemudian secara pasif terbawa oleh lalat (kaki-kaki lalat). Lalat itu mengontaminasi makanan, minuman, sayuran, maupun buah-buahan segar. Saat kuman masuk ke saluran pencernaan manusia, sebagian kuman mati oleh asam lambung dan sebagian kuman masuk ke usus halus. Dari usus halus itulah kuman beraksi sehingga bisa ” menjebol” usus halus. Setelah berhasil melampaui usus halus, kuman masuk ke kelenjar getah bening, ke pembuluh darah, dan ke seluruh tubuh (terutama pada organ hati, empedu, dan lain-lain). Jika demikian keadaannya, kotoran dan air seni penderita bisa mengandung kuman S typhi yang siap menginfeksi manusia lain melalui makanan atau pun minuman yang dicemari. Pada penderita yang tergolong carrier (pengidap kuman ini namun tidak menampakkan gejala sakit), kuman Salmonella bisa ada terus menerus di kotoran dan air seni sampai bertahun-tahun. S. thypi hanya berumah di dalam tubuh manusia. Oleh kerana itu, demam typhoid sering ditemui di tempat-tempat di mana penduduknya kurang menjaga kebersihan. Untuk itu harus ada kesadaran dari individu masing-masing untuk terus menjaga kebersihan baik dari segi makanan dan minuman yang di konsumsi maupun kebersihan tangan sebelum mengkonsumsi makanan yang dimakan.

Pencegahan demam typhoid adalah dengan menjaga kebersihan makanan/minuman dan mencuci tangan sebelum makan. Tidak makan dan jajan di sembarang tempat. Pilihlah rumah makan dan tempat jajan yang menjaga dan mengutamakan kebersihan karena penyebaran demam typhoid melalui makanan dan tangan yang tercemar oleh bakteri ini.

Agar tidak tertular bakteri penyebab demam typhoid kita harus senantiasa menjaga kebersihan makanan dan minuman dan mencuci tangan sebelum makan dan Makan makanan seperti biasa dan hindari makanan yang berserat tinggi seperti sayur – sayuran, buah – buahan dan daging. Selain makan makanan yang bergizi juga harus disertai olahraga yang cukup.

c.  Lingkungan

Selain menjaga kebersihan makanan, pencegahan juga dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan di lingkungan sekitar tempat tinggal kita. Karena lingkungan merupakan faktor utama timbulnya penyakit demam typhoid. Penyebaran kuman S. typhi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi biasanya melalui feses penderita. Sepeti yang sudah disebutkan, transmisi terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi salmonella thypi yang masuk ke dalam tubuh manusia. Untuk mencegah penyebaran kuman S. typhi maka sebaiknya kita BAB di jamban supaya kotoran dari BAB kita tidak dihinggapi oleh lalat. Karena apabila dihinggapi oleh lalat maka dengan mudah penyebaran kuman S. typhi bisa mengkontaminasi makanan yang akan kita makan.

Selain menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal kita juga harus membersihkan perlengkapan makan kita agar tidak terkontaminasi dengan bakteri penyebab demam typhoid.

Sumber :

http://id.shvoong.com/medicine-and-health/epidemiology-public-health/2113506-demam-thypoid-tifus/

http://hesa-andessa.blogspot.com/2010/04/demam-thypoid_07.html

http://dokter-herbal.com/demam-typhoid.html

FKM UNDIP

Penyakit Hati Yang Diinduksi Oleh Obat (Drug-Induced Liver Disease)

Ø Perawatan Penyakit-Penyakit Hati Yang Diinduksi Oleh OBat

Perawatan yang paling penting untuk penyakit hati yang diinduksi obat adalah menghentikan obat yang menyebabkan penyakit hati. Pada kebanyakan pasien-pasien, tanda-tanda dan gejala-gejala dari penyakit hati akan menghilang dan tes-tes darah akan menjadi normal dan tidak akan ada kerusakan hati jangka panjang. Ada pengecualian-pengecualian, bagaimanapun. Contohnya, overdosis Tylenol dirawat dengan oral N-acetylcysteine untuk mencegah necrosis hati yang parah dan gagal hati. Transplantasi hati mungkin perlu untuk beberapa pasien-pasien dengan gagal hati akut. Beberapa obat-obat juga dapat menyebabkan kerusakan hati yang tidak dapat diubah lagi dan sirosis.

Ø Contoh-Contoh Penting Dari Penyakt Hati Yang Diinduksi Oleh Obat

1. Acetaminophen (Tylenol)

Overdosis acetaminophen dapat merusak hati. Kemungkinan kerusakan serta keparahan dari kerusakan tergantung pada dosis acetaminophen yang dikonsumsi; lebih tinggi dosisnya, lebih mungkin akan ada kerusakan dan lebih mungkin bahwa kerusakan akan menjadi berat/parah. Reaksi pada acetaminophen adalah tergantung dosis dan dapat diprediksi (diramalkan); ia bukan idiosyncratic – ganjil pada individu. Luka hati dari overdosis acetaminophen adalah hal yang serius karena kerusakan dapat berat/parah dan berakibat pada gagal hati dan kematian. Faktanya, overdosis acetaminophen adalah penyebab yang memipin dari gagal hati yang akut (penimbulan yang cepat) di Amerika dan Inggris.

Untuk dewasa rata-rata yang sehat, dosis maksimum acetaminophen yang direkomendasi selama periode 24-jam adalah 4 gram (4000 mg) atau delapan tablet-tablet extra-strength. (setiap tablet extra-strength mengandung 500 mg, sementara setiap tablet regular strength mengandung 325 mg.) Diantara anak-anak, dosis acetaminophen ditentukan pada dasar dari berat badan dan umur setiap anak, secara eksplisit (dengan tegas) dinyatakan pada setiap sisipan kemasan. Jika petunjuk-petunjuk untuk kaum dewasa dan anak-anak ini dituruti, acetaminophen adalah aman dan pada dasarnya tidak membawa risiko luka hati. Seseorang yang meminum lebih dari dua minuman-minuman beralkohol per hari, bagaimanapun, harus tidak memakai lebih dari 2 gram (2000 mg) acetaminophen diatas 24 jam, seperti didiskusikan dibawah, karena alkohol membuat hati rentan pada kerusakan dari dosis-dosis acetaminophen yang lebih rendah.

Dosis tunggal dari 7 sampai 10 gram (7000 – 10,000 mg) acetaminophen (14 sampai 20 tablet-tablet extra-strength), dua kali dosis yang direkomendasikan, dapat menyebabkan luka hati pada rata-rata kaum dewasa yang sehat. Diantara anak-anak, dosis tunggal dari 140 mg/kg (berat badan) acetaminophen dapat berakibat pada luka hati. Meskipun demikian, 3 sampai 4 gram ((3000 to 4000 mg) yang dipakai pada dosis tunggal atau 4 sampai 6 gram (4000 to 6000 mg) diatas 24 jam telah dilaporkan menyebabkan luka hati yang berat pada beberapa orang-orang, adakalanya bahkan berakibat pada kematian. Nampaknya bahwa individu-individu tertentu, contohnya, mereka yang meminum alkohol secara teratur, adalah lebih cenderung daripada yang lain-lain untuk mengembangkan kerusakan hati yang diinduksi acetaminophen. Faktor-faktor lain yang meningkatkan risiko seseorang untuk kerusakan dari acetaminophen termasuk keadaan berpuasa, malnutrisi, dan pemasukan yang serentak dari beberapa obat-obat lain seperti phenytoin (Dilantin), phenobarbital, carbamazepine [(Tegretol) (obat-obat anti serangan kejang)] atau isoniazid [(Nydrazid, Laniazid) (obat anti-TB)].

2. Statins

Statins adalah obat-obat yang paling luas digunakan untuk menurunkan kolesterol “jahat” (LDL) dalam rangka mencegah serangan-serangan jantung dan stroke-stroke. Kebanyakan dokter-dokter percaya bahwa statins adalah aman untuk penggunaan jangka panjang, dan pembahayaan (luka) hati yang penting adalah jarang. Meskipun demikian, statins dapat melukai (membahayakan) hati. Persoalan paling umum yang berhubungan dengan hati yang disebabkan oleh statins adalah peninggian-peninggian yang ringan pada tingkat-tingkat darah dari enzim-enzim hati (ALT dan AST) tanpa gejala-gejala. Studi-studi klinik telah menemukan peninggian-peninggian pada 0.5% sampai 3% dari pasien-pasien yang mengkonsumsi statins. Kelainan-kelainanini biasanya membaik atau menghilang sepenuhnya atas penghentian statin atau pengurangan dosis. Tidak ada kerusakan hati yang permanen (menetap).

Pasien-pasien dengan kegemukan mempunyai kesempatan yang meningkat mengembangkan diabetes, non-alcoholic fatty liver disease (NFALD), dan tingkat-tingkat kolesterol darah yang meninggi. Pasien-pasien dengan fatty liver seringkali tidak mempunyai gejala-gejala, dan tes-tes abnormal ditemukan ketika pengujian darah rutin dilakukan. Studi-studi baru-baru ini telah menemukan bahwa statins dapat digunakan dengan aman untuk merawat kolesterol darah yang tinggi pada pasien-pasien yang telah mempunyai fatty liver dan tes-tes darah hati yang abnormalnya ringan ketika statin dimulai. Pada pasien-pasien ini, dokter-dokter mungkin memilih untuk menggunakan statins pada dosis-dosis yang rendah dan mengamati (memonitor) tingkat-tingkat enzim hati secara teratur selama perawatan.

Meskipun demikian, idiosyncratic liver toxicity yang mampu menyebabkan kerusakan hati yang parah (termasuk gagal hati yang menjurus pada transplantasi hati) telah dilaporkan dengan statins. Frekwensi dari penyakit hati yang parah yang disebabkan oleh satins kemungkinan berada pada batasan dari 1-2 per juta pemakai-pemakai. Sebagai tindakan pencegahan, FDA labeling information menasehati bahwa tes-tes darah enzim hati harus dilaksanakan sebelum dan 12 minggu setelah inisiasi (permulaan) dari statin atau peningkatan pada dosis, dan secara periodik setelahnya (contohnya, setiap enam bulan).

3. Nicotinic acid (Niacin)

Niacin, seperti statins, telah digunakan untuk merawat tingkat-tingkat kolesterol darah yang meninggi serta tingkat-tingkat triglyceride yang meninggi. Juga seperti statins, niacin dapat merusak hati. Ia dapat menyebabkan peninggian-peninggian ringan yang temporer (sementara) pada tingkat-tingkat darah dari AST dan ALT, jaundice, dan, pada kejadian-kejadian yang jarang, gagal hati. Keracunan hati dengan niacin adalah tergantung dosis; dosis-dosis yang beracun biasanya melebihi 2 grams per hari. Pasien-pasien dengan penyakit-penyakit hati yang telah ada sebelumnya dan mereka yang meminum alkohol secara teratur berada pada risiko yang lebih tinggi mengembangkan keracunan niacin. Sustained-release preparations dari niacin juga adalah lebih mungkin menyebabkan keracunan hati daripada immediate-release preparations.

4. Amiodarone (Cordarone)

Amiodarone (Cordarone) adalah obat yang penting yang digunakan untuk merawat irama jantung yang tidak teratur (aritmia) seperti atrial fibrillation dan ventricular tachycardia. Amiodarone dapat menyebabkan kerusakan hati yang berkisar dari kelainan-kelainan enzim hati darah yang ringan dan dapat diubah lagi, sampai ke gagal hati akut dan sirosis yang tidak dapat diubah lagi. Kelainan-kelainan tes-tes darah hati yang ringan adalah umum dan secara khas menghilang beminggu-minggu sampai berbulan-bulan setelah penghentian obat. Kerusakan hati yang serius terjadi pada kurang dari 1% dari pasien-pasien.

Amiodarone berbeda dari kebanyakan obat-obat lain karena jumlah yang substansial dari amiodarone disimpan didalam hati. Obat yang disimpan mampu menyebabkan fatty liver, hepatitis, dan, lebih penting, ia dapat terus menerus merusak hati lama setelah obat dihentikan. Kerusakan hati yang serius dapat menjurus pada gagal hati akut, sirosis, dan keperluan untuk transplantasi hati.

5. Methotrexate (Rheumatrex, Trexall)

Methotrexate (Rheumatrex, Trexall) telah digunakan untuk perawatan jangka panjang dari pasien-pasien dengan psoriasis yang parah, rheumatoid arthritis, psoriatic arthritis, dan beberapa pasien-pasien dengan penyakit Crohn. Methotrexate telah ditemukan sebagai penyebab dari sirosis hati pada cara yang tergantung dosis. Pasien-pasien dengan penyakit-penyakit hati yang telah ada sebelumnya, pasien-pasien yang kegemukan, dan mereka yang meminum alkohol secara teratur terutama berada pada risiko mengembangkan sirosis yang diinduksi methotrexate. Pada tahun-tahun baru-baru ini, dokter-dokter telah mengurangi secara substansial kerusakan hati methotrexate dengan menggunakan dosis rendah dari methotrexate (5-15 mg) yang diberikan sekali setiap minggu dan dengan pengamatan dengan hati-hati tes-tes darah hati selama terapi. Beberapa dokter-dokter juga melakukan biopsi-biopsi hati pada pasien-pasien tanpa gejala-gejala hati setelah dua tahun (atau setelah dosis kumulatif dari 4 gram methotrexate) untuk mencari sirosis hati awal.

6. Antibiotik-Antibiotik

  • Isoniazid (Nydrazid, Laniazid). Isoniazid telah digunakan berdekade-dekade untuk merawat tuberculosis yang tersembunyi (pasien-pasien dengan tes-tes kulit yang positif untuk tuberculosis, tanpa tanda-tanda atau gejala-gejala dari tuberculosis yang aktif). Kebanyakan pasien-pasien dengan penyakit hati yang diinduksi isoniazid hanya mengembangkan peninggian-peinggian yang ringan dan dapat diubah lagi pada tingkat-tingkat darah dari AST dan ALT tanpa gejala-gejala, namun kira-kira 1-2% dari pasien-pasien mengembangkan hepatitis yang diinduksi isoniazid. Risiko mengembangkan hepatitis isoniazid terjadi lebih umum pada pasien-pasien yang lebih tua daripada pasien-pasien yang lebih muda. Risiko dari penyakit hati yang serius adalah 0.3% pada dewasa-dewasa muda yang sehat, dan meningkat ke lebih dari 2% pada pasien-pasien yang lebih tua dari umur 50 tahun. Suatu perkiraan 5-10% dari pasien-pasien yang mengembangkan hepatitis berlanjut mengembangkan gagal hati dan memerlukan transplantasi hati. Risiko keracunan hati isoniazid meningkat dengan pemasukan alkohol teratur yang kronis, dan dengan penggunaan serentak dari obat-obat lain seperti Tylenol dan rifampin (Rifadin, Rimactane).

Gejala-gejala awal dari hepatitis isoniazid adalah kelelahan, nafsu makan yang buruk, mual, dan muntah. Jaundice mungkin kemudian mengikutinya. Kebanyakan pasien-pasien dengan hepatitis isoniazid sembuh sepenuhnya dan dengan segera setelah penghentian obat. Penyakit hati yang berat dan gagal hati kebanyakan terjadi pada pasien-pasien yang terus menerus memakai isoniazid setelah timbulnya hepatitis. Oleh karenanya, perawatan yang paling penting untuk keracunan hati isoniazid adalah pengenalan awal dari hepatitis dan penghentian isoniazid sebelum luka hati yang serius telah terjadi.

  • Nitrofurantoin. Nitrofurantoin adalah obat anti bakteri yang digunakan untuk merawat infeksi-infeksi saluran kencing yang disebabkan oleh banyak bakteri-bakteri gram-negative dan beberapa bakteri-bakteri gram-positive. Nitrofurantoin disetujui oleh FDA pada tahun 1953. Ada tiga bentuk dari nitrofurantoin yang tersedia: bentuk microcrystalline (Furadantin), bentuk macrocrystalline (Macrodantin), dan bentuk sustained release, macrocrystalline yang digunakan dua kali dalam satu hati (Macrobid).

Nitrofurantoin dapat menyebabkan penyakit hati akut dan kronis. Paling umum, nitrofurantoin menyebabkan peninggian-peninggian yang ringan dan dapat diubah lagi pada tingkat-tingkat darah dari enzim-enzim hati tanpa gejala-gejala. Pada kejadian-kejadian yang jarang, nitrofurantoin dapat menyebabkan hepatitis.

Gejala-gejala dari hepatitis nitrofurantoin termasuk:

a.       kelelahan,

b.       demam,

c.        sakit-sakit otot dan persendian,

d.       nafsu makan yang buruk,

e.        mual,

f.        kehilangan berat badan,

g.        muntah,

h.       jaundice, dan

i.         adakalanya gatal.

Beberapa pasien-pasien dengan hepatitis juga mempunyai ruam kulit, kelenjar-kelenjar limfa yang membesar, dan pneumonia (dengan gejala-gejala dari batuk dan sesak napas) yang diinduksi nitrofurantoin. Tes-tes darah biasanya menunjukan enzim-enzim hati dan bilirubin yang meninggi. Kesembuhan dari hepatitis dan gejala-gejala lain dari kulit, persendian, dan paru adalah biasanya cepat sekali obat dihentikan. Penyakit hati yang serius seperti gagal hati akut dan hepatitis kronis dengan sirosis kebanyakan terjadi pada pasien-pasien yang meneruskan obat meskipun mengembangkan hepatitis.

  • Augmentin. Augmentin adalah kombinasi dari amoxicillin dan clavulanic acid. Amoxicillin adalah antibiotik yang berhubungan dengan penicillin dan ampicillin. Ia efektif melawan banyak bakteri-bakteri seperti H. influenzae, N. gonorrhea, E. coli, Pneumococci, Streptococci, dan strains tertentu dari Staphylococci . Tambahan dari clavulanic acid pada amoxicillin pada Augmentin memperkuat keefektifan dari amoxicillin melawan banyak bakteri-bakteri lain yang adalah biasanya resisten pada amoxicillin.

Augmentin telah dilaporkan menyebabkan cholestasis dengan atau tanpa hepatitis. Cholestasis yang diinduksi augmentin adalah jarang; kira-kira 150 kasus-kasus dari penyakit hati yang berhubungan dengan Augmentin telah dilaporkan. Gejala-gejala dari cholestasis (jaundice, mual, gatal) biasanya terjadi 1-6 minggu setelah memulai Augmentin, namun timbulnya penyakit hati dapat terjadi berminggu-minggu setelah penghentian Augmentin. Kebanyakan pasien-pasien sembuh sepenuhnya dalam minggu-minggu sampai bulan-bulan setelah penghentian obat, namun kasus-kasus yang jarang dari gagal hati, sirosis, dan transplantasi hati telah dilaporkan.

Antibiotik-antibiotik lain telah dilaporkan menyebabkan penyakit hati. Beberapa contoh-contoh termasuk minocycline (antibiotik yang berubungan dengan tetracycline), dan Cotrimoxazole (kombinasi dari sulfamethoxazole dan trimethoprim).

7. Nonsteroidal antiinflammatory drugs (NSAIDs)

Obat-obat antiperadangan nonsteroid atau nonsteroidal antiinflammatory drugs (NSAIDs) umumnya diresepkan untuk peradangan tulang dan yang berhubungan dengan sendi seperti arthritis, tendinitis dan bursitis. Contoh-contoh dari NSAIDs termasuk aspirin, indomethacin (Indocin), ibuprofen (Motrin), naproxen (Naprosyn), piroxicam (Feldene), dan nabumetone (Relafen). Kira-kira 33 juta orang-orang Amerika memakai NSAIDs secara teratur !

NSAIDs adalah aman ketika digunakan secara tepat dan seperti yang diresepkan oleh dokter-dokter; bagaimanapun, pasien-pasien dengan sirosis dan penyakit hati yang telah lanjut harus menghindari NSAIDs karena mereka dapat memperburuk fungsi hati (serta menyebabkan gagal hati).

Penyakit hati yang serius (seperti hepatitis) dari NSAIDs, terjadi dengan jarang (pada kira-kira 1-10 pasien-pasien per 100,000 yang menggunakan oba-obat). Diclofenac (Voltaren) adalah contoh dari NSAID yang telah dilaporkan menyebakan sedikit lebih sering hepatitis, pada kira-kira 1-5 per 100,000 pemakai-pemakai obat. Hepatitis biasanya menghilang sepenuhnya setelah penghentian obat. Gagal hati akut dan penyakit hati kronis, sepert sirosis, telah jarang dilaporkan.

8. Tacrine (Cognex)

Tacrine (Cognex) adalah obat oral yang digunakan untuk merawat penyakit Alzheimer. FDA menyetujui tacrine pada tahun 1993. Tacrine telah dilaporkan menyebabkan peninggian-peninggian yang abnormal pada enzim-enzim hati darah umumnya. Pasien-pasien mungkin melaporkan mual, namun hepatitis dan penyakit hati yang serius adalah jarang. Tes-tes abnormal biasanya menjadi normal setelah tacrine dihentikan.

9. Disulfiram (Antabuse)

Disulfiram (Antabuse) adalah obat yang adakalanya diresepkan untuk merawat alkoholisme. Ia menghilangkan semangat meminum dengan menyebabkan mual, muntah, dan reaksi-reaksi fisik lain yang tidak menyenangkan ketika alkohol diminum. Disulfiram telah dilaporkan menyebabkan hepatitis akut. Pada kasus-kasus yang jarang, hepatitis yang diinduksi disulfiram dapat menjurus pada gagal hati akut dan transplantasi hati.

10. Vitamin-Vitamin Dan Herba-Herba

Pemasukan vitamin A yang berlebihan, yang dimasukan bertahun-tahun, dapat merusak hati. Diperkirakan bahwa lebih dari 30% dari populasi Amerika memakai suplemen-suplemen dari vitamin A, dan beberapa individu-individu memakai vitamin A pada dosis yang tinggi yang mungkin beracun untuk hati (lebih besar dari 10,000 units/ hari). Penyakit hati yang diinduksi vitamin A termasuk peningkatan yang ringan yang dapat diubah kembali dari enzim-enzim hati darah, hepatitis, hepatitis kronis dengan sirosis, dan gagal hati.

Gejala-gejala dari keracunan vitamin A mungkin termasuk nyeri-nyeri tulang dan otot, pewarnaan orange kulit, kelelahan, dan sakit kepala. Pada kasus-kasus yang berlanjut, pasien-pasien akan mengembangkan hati-hati dan limpa-limpa yang membesar, jaundice, dan ascites (penumpukan cairan yang abnormal di perut). Pasien-pasien yang adalah peminum alkohol yag berat dan mempunyai penyakit hati lain yang telah ada lebih dahulu berada pada risiko yang meningkat dari kerusakan hati dari vitamin A. Perbaikan secara berangsur-angsur pada penyakit hati biasanya terjadi setelah menghentikan vitamin A, namun kerusakan hati yang progresif dan gagal hati mungkin terjadi pada keracunan vitamin A yang berat dengan sirosis.

Keracunan hati juga telah dilaporkan dengan herbal teh. Contoh-contoh termasuk Ma Huang, Kava Kava, pyrrolizidine alkaloids in Comfrey, germander, dan chaparral leaf. Amanita phylloides adalah kimia racun hati yang ditemukan pada jamur-jamur yang beracun. Konsumsi tunggal dari jamur yang beracun dapat menjurus pada gagal hati akut dan kematian.

KEJADIAN LUAR BIASA (KLB)

Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah suatu kejadian kesakitan/kematian dan atau meningkatnya suatu kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu kelompok penduduk dalam kurun waktu tertentu.” (Peraturan Menteri Kesehatan No. 949/Menkes/SK/VIII/2004).

Tugas individu:

1.    Apa saja krtiteria suatu kejadian penyakit dinyatakan wabah/KLB?

  • Timbulnya suatu penyakit/penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal di suatu daerah
  • Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis   penyakitnya
  • Peningkatan kejadian/kematian ? 2 kali dibandingkan dengan periode sebelumnya
  • Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan ? 2 kali bila dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan tahun sebelumnya
  • Angka rata-rata per bulan selama satu tahun menunjukkan kenaikan ? 2 kali dibandingkan angka rata-rata per bulan dari tahun sebelumnya
  • CFR (Case Fatality Rate) suatu penyakit dalam suatu kurun waktu tertentu menunjukkkan kenaikan 50% atau lebih dibanding CFR periode sebelumnya
  • Proporsional Rate penderita baru dari suatu periode tertentu menunjukkan kenaikan ? 2 kali dibandingkan periode yang  sama dan kurun waktu/tahun sebelumnya
  • Beberapa penyakit khusus: Kholera, DHF/DSS:
  1. Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya (pada  daerah endemis)
  2. Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada periode 4 minggu sebelumnya daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit tersebut.
  • Beberapa penyakit yang dialami  oleh satu atau lebih penderita :
  1. Keracunan makanan
  2. Keracunan pestisida

2.    Apa yang dimaksud dengan “Herd Immunity”?

Heard immunity adalah pertahanan kelompok / pertahanan sekelompok masyarakat terhadap masuknya dan menyebarnya agen infeksi, karena sebagian besar anggota kelompok tersebut memiliki daya tahan terhadap infeksi yang berbeda –beda. Kekebalan kelompok diakibatkan oleh menurunnya peluang penularan bibit penyakit dari penderita yang terinfeksi kepada orang sehat yang rentan bila sebagian besar anggota kelompok tersebut memiliki ketahanan yang tunggi terhadap penyakit itu. Herd Immunity bias dikatakan jika bahwa antara masyarkat yang kebal dan tidak kebal terhadap suatu penyakit tidak mengelompok sendiri-sendiri sehingga penyebaran penyakit bias menurun dalam suatu kelompok tertentu.

Teori Herd immunity menyatakan bahwa, dalam penyakit menular yang ditularkan dari individu ke individu, rantai infeksi mungkin akan terganggu ketika sejumlah besar populasi kebal terhadap penyakit. Semakin besar proporsi individu yang kebal, semakin kecil kemungkinan bahwa individu rentan akan datang ke dalam kontak dengan individu menular.

3.    Apa yang seharusnya kita lakukan agar fenomena wabah/KLB dapat dicegah?

Upaya penanggulangan ini meliputi pencegahan penyebaran KLB, termasuk pengawasan usaha pencegahan tersebut dan pemberantasan penyakitnya. Upaya penanggulangan KLB yang direncanakan dengan cermat dan dilaksanakan oleh semua pihak yang terkait secara terkoordinasi dapat menghentikan atau membatasi penyebarluasan KLB sehingga tidak berkembang menjadi suatu wabah (Depkes, 2000).

Ria Meliza

E2A009188

FKM UNDIP



SURVEILANS EPIDEMIOLOGI PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

MENJELASKAN BAGAIMANA SISTEM SURVEILANS EPIDEMIOLOGI PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DILAKUKAN

 

Seiring meningkatnya arus globalisasi, maka timbul pula penyakit baru (new emerging disease) dan timbulnya kembali penyakit lama (re-emerging disease). Dampak dari arus globalisasi tersebut juga terjadi di Indonesia. Padahal di Indonesia beberapa penyakit menular masih merupakan beban masalah kesehatan yang menonjol dan mempunyai kontribusi yang bermakna terhadap mortalitas dan morbiditas penduduk. Salah satu penyakit menular yang sering terjadi di Indonesia yaitu Demam Berdarah Dengue (DBD).

Upaya untuk memberantas penyakit menular tersebut sudah lama dilaksanakan dengan menghabiskan dana yang begitu besar. Namun sampai saat ini upaya tersebut hasilnya belum menggembirakan. Di beberapa daerah masih sering terjadi kejadian luar biasa (KLB) yang sebenarnya masih dapat dieliminir apabila system surveilans dapat berjalan dengan baik.

Selama ini pengertian konsep surveilans epidemiologi sering di pahami hanya sebagai kegiatan pengumpulan dana dan penanggulangan KLB, pengertian seperti itu menyembunyikan makna analisis dan penyebaran informasi epidemiologi sebagai bagian yang sangat penting dari proses kegiatan surveilans epidemiologi.

Menurut WHO, surveilans adalah proses pengumpulan, pengolahan, analisis, dan interpretasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan. Oleh karena itu perlu di kembangkan suatu definisi surveilans epidemiologi yang lebih mengedepankan analisis atau kajian epidemiologi serta pemanfaatan informasi epidemiologi, tanpa melupakan pentingnya kegiatan pengumpulan dan pengolahan data.

Dalam sistem ini yang dimaksud dengan surveilans epidemiologi adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut, agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan.

Sistem surveilans epidemiologi merupakan tatanan prosedur penyelenggaraan surveilans epidemiologi yang terintegrasi antara unit-unit penyelenggara surveilans dengan laboratorium, sumber-sumber data, pusat penelitian, pusat kajian dan penyelenggara program kesehatan, meliputi tata hubungan surveilans epidemiologi antar wilayah kabupaten/kota, Propinsi dan Pusat.

System surveilans penyakit DBD adalah pengamatan penyakit DBD di Puskesmas meliputi kegiatan pencatatan, pengolahan dan penyajian data penderita DBD untuk pemantauan mingguan, laporan mingguan wabah, laporan bulanan program P2DBD, penentuan desa/kelurahan rawan, mengetahui distribusi kasus DBD / kasus tersangka DBD per RW/ dusun, menentukan musim penularan dan mengetahui kecendrungan penyakit.

Tujuan dari surveilans antara lain adalah deteksi out break, evaluasi suatu upaya intervensi dan monitor kerja program penanggulangan. Adapun kegiatan system surveilans terdiri dari pengumpulan data, pengolahan, analisa, rekomendasi sampai pada diseminasi informasi. Hasil dari kegiatan surveilans dapat berupa informasi yang dapat digunakan untuk menilai status kesehatan masyarakat, identifikasi prioritas kesehatan masyarakat evaluasi program dan riset stimulasi. Untuk menghasilkan informasi yang akurat diperlukan data yang akurat pula. Data dapat dikumpulkan dari berbagai sumber dan berbagai cara.

Pengolahan data dilakukan dengan pendekatan prinsip-prinsip surveilans epidemiologi yaitu analisa kependudukan berdasarkan tempat, waktu, orang dan golongan risiko tinggi serta menggunakan indakator-indikator rate, proporsi, ratio. Untuk analisa dan interpretasi data disamping melihat factor-faktor tersebut juga menggunakan perbandingan data tahun sebelumnya atau data pencapaian tingkat provinsi maupun nasional.

Penyakit demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) di Indonesia. Penyakit ini mempunyai perjalanan penyakit yang cepat, mudah menyebar dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat. Prediksi kejadian demam berdarah dengue di suatu wilayah, selama ini dilakukan berdasarkan stratifikasi endemisitas, pola maksimal−minimal dan siklus 3−5 tahun sesuai dari data Surveilans epidemiologi. Cara prediksi ini terdapat kelemahan karena berubahnya data menjelang musim penularan DBD dan belum adanya data faktor risiko terkini, sehingga prediksi sering tidak tepat. Data faktor risiko DBD dapat digunakan untuk menentukan jenis intervensi, sehingga kejadian DBD dapat dicegah sesuai konsep kewaspadaan dini.

Data surveilans epidemiologi yang dihasilkan, sebagian masih diolah secara manual dan semi otomatis dengan penyajian masih terbatas dalam bentuk tabel dan grafik, sedangkan penyajian dalam bentuk peta belum dilakukan. Berdasarkan kenyataan tersebut, dikembangkan sistem surveilans epidemiologi DBD untuk kewaspadaan dini berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG).

Pada sistem ini, dilakukan pendataan faktor risiko DBD melalui Rapid Survey pada saat menjelang musim penularan untuk mendapatkan data terbaru untuk menentukan jenis intervensi. Dengan SIG, dapat dihasilkan peta faktor risiko, peta kasus dan peta kegiatan lain, dan dengan teknik overlayer dapat dilakukan perencanaan maupun evaluasi program pemberantasan DBD.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Kegiatan surveilans DBD di Dinas Kesehatan di suatu wilayah menjadi tanggung jawab dan dilaksanakan oleh petugas atau pengelola program DBD. Jumlah petugas sudah dianggap cukup, tetapi kualitasnya masih kurang. Sering terjadi keterlambatan data yang berasal dari KDRS, sehingga terjadi keterlambatan dalam pengolahan dan analisis data. Informasi epidemiologi yang dihasilkan dari kegiatan surveilans belum disebarluaskan secara rutin, baik kepada Kepala Dinas, maupun lintas program. Disamping itu, sumber data baik Rumah Sakit maupun Puskesmas, juga tidak mendapat feedback hasil pelaksanaan surveilans. Penilaian terhadap atribut sistem surveilans menujukkan bahwa sistem yang berjalan sudah sederhana, mempunyai NPP yang tinggi dan representatif. Disamping itu, penilaian terhadap atribut sistem yang berjalan menunjukkan bahwa sistem yang berjalan masih kurang akseptabel, kurang sensitif dan kurang tepat waktu dan sulit dievaluasi fleksibilitasnya.

Berdasarkan hasil yang diperoleh, disarankan adanya pelatihan dalam bentuk on the job training, untuk menyelesaikan kurangnya kualitas tenaga pelaksana agar lebih sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi. Perlu dilakukan diseminasi dalam bentuk laporan kepada atasan, feedback kepada sumber data maupun kepada siapa saja yang membutuhkan, termasuk lintas sektor, lintas program dan kepada masyarakat luas. Dengan diseminasi Informasi, masing-masing pihak akan dapat mengetahui dan sadar akan kondisi DBD di wilayahnya, sehingga dapat membantu mengurangi kemungkinan penyebaran DBD.

FKM UNDIP

 

 

 

 

 

 

EPIDEMIOLOGI DAN PERANANNYA DALAM MASALAH KESEHATAN DI MASYARAKAT

EPIDEMIOLOGI dan PERANANNYA DALAM MASALAH KESEHATAN DI MASYARAKAT

  1. PENGERTIAN EPIDEMIOLOGI

    Jika ditinjau dari asal kata ( Bahasa Yunani ) Epidemiologi berarti Ilmu yang mempelajari tentang penduduk { EPI = pada/tentang ; DEMOS = penduduk ; LOGOS = ilmu }. Sedangkan dalam pengertian modern pada saat ini EPIDEMIOLOGI adalah :

    “ Ilmu yang mempelajari tentang Frekwensi dan Distribusi (Penyebaran) masalah kesehatan pada sekelompok orang/masyarakat serta Determinannya (Faktor – faktor yang Mempengaruhinya)”.

    Dari definisi tersebut di atas, dapat dilihat bahwa dalam pengertian epidemiologi terdapat 3 hal Pokok yaitu :

    1. Frekwensi masalah kesehatan

    Frekwensi yang dimaksudkan disini menunjuk pada besarnya masalah kesehatan yang terdapat pada sekelompok manusia/masyarakat. Untuk dapat mengetahui frekwensi suatu masalah kesehatan dengan tepat, ada 2 hal yang harus dilakukan yaitu :

    a. Menemukan masalah kesehatan yang dimaksud.

    b. Melakukan pengukuran atas masalah kesehatan yang ditemukan tersebut.

    2. Distribusi ( Penyebaran ) masalah kesehatan.

    Yang dimaksud dengan Penyebaran / Distribusi masalah kesehatan disini adalah menunjuk kepada pengelompokan masalah kesehatan menurut suatu keadaan tertentu. Keadaan tertentu yang dimaksudkan dalam epidemiologi adalah :

    a. Menurut Ciri – ciri Manusia ( MAN )

    b. Menurut Tempat ( PLACE )

    c. Menurut Waktu ( TIME )

    3. Determinan ( Faktor – factor yang mempengaruhi )

    Yang dimaksud disini adalah menunjuk kepada factor penyebab dari suatu penyakit / masalah kesehatan baik yang menjelaskan Frekwensi, penyebaran ataupun yang menerangkan penyebab munculnya masalah kesehatan itu sendiri. Dalam hal ini ada 3 langkah yang lazim dilakukan yaitu :

    a. Merumuskan Hipotesa tentang penyebab yang dimaksud.

    b. Melakukan pengujian terhadap rumusan Hipotesa yang telah disusun.

    c. Menarik kesimpulan.

    Adapun definisi Epidemiologi menurut CDC 2002, Last 2001, Gordis 2000 menyatakan bahwa EPIDEMIOLOGI adalah : “ Studi yang mempelajari Distribusi dan Determinan penyakit dan keadaan kesehatan pada populasi serta penerapannya untuk pengendalian masalah – masalah kesehatan “. Dari pengertian ini, jelas bahwa Epidemiologi adalah suatu Studi ; dan Studi itu adalah Riset. Kemudian apakah Riset itu…..?? Menurut Leedy (1974), Riset adalah “ a systematic quest for undiscovered truth”. ( Artinya : Pencarian sistematis terhadap kebenaran yang belum terungkap ).

    4 ( Empat ) Tujuan Epidemiologi ( Risser dan Risser 2002, Gordis 2000, Gerstman 1998, Kleinbaum et.al. 1982 adalah :

    1. Mendeskripsikan Distribusi, kecenderungan dan riwayat alamiah suatu penyakit atau keadaan kesehatan populasi.

    2. Menjelaskan etiologi penyakit.

    3. Meramalkan kecadian penyakit.

    4. Mengendalikan distribusi penyakit dan masalah kesehatan populasi.Sebagai ilmu yang selalu berkembang, Epidemiologi senantiasa mengalami perkembangan pengertian dan karena itu pula mengalami modifikasi dalam batasan/definisinya. Beberapa definisi telah dikemukakan oleh para pakar epidemiologi, beberapa diantaranya adalah :

    1. Wade Hampton Frost ( 1972 )

    “Mendefinisikan Epidemiologi sebagai Suatu pengetahuan tentang fenomena massal ( Mass Phenomen ) penyakit infeksi atau sebagai riwayat alamiah ( Natural History ) penyakit menular.”

    Di sini tampak bahwa pada waktu itu perhatian epidemiologi hanya ditujukan kepada masalah penyakit infeksi yang terjadi/mengenai masyarakat/massa.

    2. Greenwood ( 1934 )

    “Mengatakan bahwa Epidemiologi mempelajari tentang penyakit dan segala macam kejadian yang mengenai kelompok ( herd ) penduduk.”

    Kelebihannya adalah adanya penekanan pada Kelompok Penduduk yang mengarah kepada Distribusi suatu penyakit.

    3. Brian Mac Mahon ( 1970 )

    Epidemiology is the study of the distribution and determinants of disease frequency in man. Epidemiologi adalah Studi tentang penyebaran dan penyebab frekwensi penyakit pada manusia dan mengapa terjadi distribusi semacam itu. Di sini sudah mulai menentukan Distribusi Penyakit dan mencari Penyebab terjadinya Distribusi dari suatu penyakit.

    4. Anders Ahlbom & Staffan Norel ( 1989 )

    Epidemiologi adalah Ilmu Pengetahuan mengenai terjadinya penyakit pada populasi manusia.

    5. Abdel R. Omran ( 1974 )

    Epidemiologi adalah suatu ilmu mengenai terjadinya dan distribusi keadaan kesehatan, penyakit dan perubahan pada penduduk, begitu juga determinannya serta akibat – akibat yang terjadi pada kelompok penduduk.

    2.  SEJARAH EPIDEMIOLOGI

    Epidemiologi sudah berkembang pesat sejak zaman Yunani kuno. Ilmu ini sangat berpengaruh besar terhadap perilaku masyarakat guna mencapai tujuan sosial-humanisme. Etape-etape epidemiologi adalah sebagai berikut:

    1. Hippocrates, (circa 400 BCE): On Airs, Waters, and Places.
      1. John Graunt (1620-1674): Natural and Political Observations on the Bills of Mortality
      2. James Lind (1716-1794):  A Treatise of the Scurvy in Three Parts
      3. William Farr: Campaigning statistician
      4. John Snow: On the Mode and Communication of Cholera
      5. Joseph Golderberger (1874-1929)

    Dari keseluruhan para ahli epidemiologi, John Snow lah yang dianggap sebagai Bapak Epidemiologi Modern.

    3.   RUANG LINGKUP EPIDEMIOLOGI

    a. Masalah kesehatan sebagai subjek dan objek epidemiologi

    Epidemiologi tidak hanya sekedar mempelajari masalah-masalah penyakit-penyakit saja, tetapi juga mencakup masalah kesehatan yang sangat luas ditemukan di masyarakat. Diantaranya masalah keluarga berencana, masalah kesehatan lingkungan, pengadaan tenaga kesehatan, pengadaan sarana kesehatan dan sebagainya. Dengan demikian, subjek dan objek epidemiologi berkaitan dengan masalah kesehatan secara keseluruhan.

    b. Masalah kesehatan pada sekelompok manusia

    Pekerjaan epidemiologi dalam mempelajari masalah kesehatan, akan memanfaatkan data dari hasil pengkajian terhadap sekelompok manusia, apakah itu menyangkut masalah penyakit, keluarga berencana atau kesehatan lingkungan. Setelah dianalisis dan diketahui penyebabnya dilakukan upaya-upaya penanggulangan sebagai tindak lanjutnya.

    c. Pemanfaatan data tentang frekuensi dan penyebaran masalah kesehatan dalam merumuskan penyebab timbulnya suatu masalah kesehatan.

    Pekerjaan epidemiologi akan dapat mengetahui banyak hal tentang masalah kesehatan dan penyebab dari masalah tersebut dengan cara menganalisis data tentang frekuensi dan penyebaran masalah kesehatan yang terjadi pada sekelompok manusia atau masyarakat. Dengan memanfaatkan perbedaan yang kemudian dilakukan uji statistik, maka dapat dirumuskan penyebab timbulnya masalah kesehatan.

    4. PENELITIAN EPIDEMIOLOGI

    Secara sederhana, studi epidemiologi dapat dibagi menjadi dua kelompok sebagai berikut :

    1. Epidemiologi deskriptif, yaitu Cross Sectional Study/studi potong lintang/studi prevalensi atau survei.
    2. Epidemiologi analitik : terdiri dari :

    a. Non eksperimental :

    1) Studi kohort / follow up / incidence / longitudinal / prospektif studi. Kohort diartiakan sebagai sekelompok orang. Tujuan studi mencari akibat (penyakitnya).

    2) Studi kasus kontrol/case control study/studi retrospektif. Tujuannya mencari faktor penyebab penyakit.

    3) Studi ekologik. Studi ini memakai sumber ekologi sebagai bahan untuk penyelidikan secara empiris faktor resiko atau karakteristik yang berada dalam keadaan konstan di masyarakat. Misalnya, polusi udara akibat sisa pembakaran BBM yang terjadi di kota-kota besar.

    b. Eksperimental.

    Dimana penelitian dapat melakukan manipulasi/mengontrol faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil penelitian dan dinyatakan sebagai tes yang paling baik untuk menentukan cause and effect relationship serta tes yang berhubungan dengan etiologi, kontrol, terhadap penyakit maupun untuk menjawab pertanyaan masalah ilmiah lainnya. Studi eksperimen dibagi menjadi 2 (dua) yaitu :

    1) Clinical Trial. Contoh :

    a) Pemberian obat hipertensi pada orang dengan tekanan darah tinggi untuk mencegah terjadinya stroke.

    b) Pemberian Tetanus Toxoid pada ibu hamil untuk menurunkan frekuensi Tetanus Neonatorum.

    2) Community Trial. Contoh : Studi Pemberian zat flourida pada air minum

    5. PERANAN  EPIDEMIOLOGI

    Apabila Epidemiologi dapat dipahami dan diterapkan dengan baik, akan diperoleh berbagai manfaat yang jika disederhanakan adalah sebagai berikut :

    1. Membantu Pekerjaan Administrasi Kesehatan.

    Yaitu membantu pekerjaan dalam Perencanaan ( Planning ) dari pelayanan kesehatan, Pemantauan ( Monitoring ) dan Penilaian ( Evaluation ) suatu upaya kesehatan.

    Data yang diperoleh dari pekerjaan epidemiologi akan dapat dimanfaatkan untuk melihat apakah upaya yang dilakukan telah sesuai dengan rencana atau tidak (Pemantauan) dan ataukah tujuan yang ditetapkan telah tercapai atau tidak (Penilaian).

    2. Dapat Menerangkan Penyebab Suatu Masalah Kesehatan.

    Dengan diketahuinya penyebab suatu masalah kesehatan, maka dapat disusun langkah – langkah penaggulangan selanjutnya, baik yang bersifat pencegahan ataupun yang bersifat pengobatan.

    3. Dapat Menerangkan Perkembangan Alamiah Suatu Penyakit.

    Salah satu masalah kesehatan yang sangat penting adalah tentang penyakit. Dengan menggunakan metode Epidemiologi dapatlah diterangkan Riwayat Alamiah Perkembangan Suatu Penyakit ( Natural History of Disease ). Pengetahuan tentang perkembangan alamiah ini amat penting dalam menggambarkan perjalanan suatu penyakit. Dengan pengetahuan tersebut dapat dilakukan berbagai upaya untuk menghentikan perjalanan penyakit sedemikian rupa sehingga penyakit tidak sampai berkelanjutan. Manfaat / peranan Epidemiologi dalam menerangkan perkembangan alamiah suatu penyakit adalah melalui pemanfaatan keterangan tentang frekwensi dan penyebaran penyakit terutama penyebaran penyakit menurut waktu. Dengan diketahuinya waktu muncul dan berakhirnya suatu penyakit, maka dapatlah diperkirakan perkembangan penyakit tersebut.

    4. Dapat Menerangkan Keadaan Suatu Masalah Kesehatan.

    Karena Epidemiologi mempelajari tentang frekwensi dan penyebaran masalah kesehatan, maka akan diperoleh keterangan tentang keadaan masalah kesehatan tersebut. Keadaan yang dimaksud di sini merupakan perpaduan dari keterangan menurut cirri – cirri Manusia, tempat dan Waktu.

    Perpaduan cirri ini pada akhirnya menghasilkan 4 ( empat ) Keadaan Masalah Kesehatan yaitu :

    a. EPIDEMI

    adalah keadaan dimana suatu masalah kesehatan ( umumnya penyakit ) yang ditemukan pada suatu daerah tertentu dalam waktu yang singkat berada dalam frekwensi yang meningkat.

    b. PANDEMI

    adalah suatu keadaan dimana suatu masalah kesehatan ( umumnya penyakit ) yang ditemukan pada suatu daerah tertentu dalam waktu yang singkat memperlihatkan peningkatan yang amat tinggi serta penyebarannya telah mencakup suatu wilayah yang amat luas.

    c. ENDEMI

    adalah  suatu keadaan dimana suatu masalah kesehatan ( umumnya penyakit ) yang frekwensinya pada suatu wilayah tertentu menetap dalam waktu yang lama.

    d. SPORADIK

    adalah  suatu keadaan dimana suatu masalah kesehatan ( umumnya penyakit ) yang ada di suatu wilayah tertentu frekwensinya berubah – ubah menurut perubahan waktu.

    NAMA  : RIA MELIZA

    NIM       : E2A009188 / REG 2

    FKM UNDIP 2009

    Hello world!

    Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.